Yahudi di Indonesia Targetkan Lobi Israel di 33 Provinsi

Salah satu tokoh Yahudi di Indonesia adalah Benjamin Ketang. Dia adalah direktur eksekutif Indonesia-Israel Public Affairs Committee (IIPAC). Berbeda dengan Rabbi Yaakov Baruch yang fokus pada ibadah, Benjamin lebih fokus ke bisnis. Targetnya, mendirikan kantor perwakilan IIPAC di 33 provinsi.

Leo Van Beugen di depan Sinagog di Minahasa. Foto : Agung Putu Iskandar/Jawa Pos

“Ini seperti lembaga lobi. Kami murni di bisnis. Terutama yang langsung bersinggungan dengan rakyat,” kata Benjamin saat ditemui di Jakarta pekan lalu. IIPAC adalah lembaga yang didirikan pada 2002. Lembaga tersebut berkantor di Jember, Jawa Timur. Komite itu bertujuan menggalang kerja sama antara pemerintah Israel dan Indonesia. Selain itu, menghubungkan Indonesia dengan investor Yahudi meski bukan dari negara Israel.

Benjamin mengatakan, meski Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, kerja sama tetap bisa dilakukan. Memang, kerja sama tersebut bukan G to G alias antar pemerintah. Tetapi, antara investor dan pengusaha atau pemerintah daerah setempat.

IIPAC, lanjut Benjamin, merancang program-program yang langsung bersentuhan dengan rakyat. Di antaranya, pemberdayaan petani, nelayan, dan bidang perkebunan. “Ini bukan menyebarkan agama Yahudi atau politik Yahudi. Ini semata untuk bisnis,” tuturnya.

Selama ini, kata Benjamin, petani dan nelayan tidak pernah sejahtera. Setiap kali masa panen tiba, harganya jatuh. Akibatnya, mereka sering merugi. “Ini kan persoalan modal. Kami coba menghubungkan kebutuhan rakyat dengan pemodal Yahudi,” ungkapnya.

Lelaki yang menghabiskan dua tahun belajar S-2 peradaban Yahudi di Universitas Hebrew, Jerusalem, Israel, itu optimistis program tersebut bisa sukses. Sebab, manfaat program langsung dirasakan masyarakat. Apalagi dia mengklaim telah mendapat dukungan dari stakeholder. Lembaga itu juga merupakan organisasi resmi yang sudah mengantongi akta notaris.

Benjamin menambahkan, investasi bangsa Yahudi di Indonesia bukan barang baru. Sebelumnya, perusahaan Yahudi menanamkan duitnya pada perusahaan pertambangan di Indonesia. Termasuk di PT Bakrie and Brothers, perusahaan milik taipan Indonesia Aburizal Bakrie.

Lelaki 38 tahun itu mengatakan, investasi di Indonesia masih cukup sulit bagi bangsa Yahudi. Alasannya, Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Padahal, banyak pengusaha Israel yang ingin berinvestasi. Dengan membuka hubungan diplomatik, dia yakin akan ada banyak keuntungan bagi Indonesia. Mulai posisi politik Indonesia di antara negara-negara dunia hingga akses terhadap beasiswa pendidikan di Israel.

“Posisi Indonesia dengan Israel selalu sulit. Warga Indonesia tidak bisa tinggal lama di Israel. Bahkan, belajar di sana saja susah. Prosedur berbelit. Kalau punya hubungan diplomatik, Indonesia akan dianggap kawan. Negara seperti Amerika tidak akan berani intervensi,” katanya.

Komunitas Yahudi di Manado Kian Eksis

Selama ini para pemeluk agama Yahudi di Indonesia memilih beribadah secara diam-diam. Tapi, di Manado, Sulawesi Utara, mereka semakin terbuka dalam beribadah. Jumlah komunitas mereka pun mencapai ratusan orang.

Di Manado dan sekitarnya, setidaknya ada dua bangunan khas Yahudi. Yakni, tempat ibadah atau yang biasa disebut sinagog dan menorah setinggi 62 kaki. Sinagog berada di Tondano, Kabupaten Minahasa, sekitar 35 kilometer dari Manado. Sedangkan menorah terletak di atas bukit Gunung Klabat di Kabupaten Minahasa Utara, sekitar 20 kilometer dari Manado.

Jawa Pos berkunjung ke sinagog tersebut Rabu (9/3) pekan lalu. Tempat ibadah itu sejatinya tidak terlalu besar. Sinagog di Tondano berdiri di atas lahan 400 meter persegi. Luas bangunan hanya 7 x 15 meter. Di bawah atap teras tertulis Ohel Yaakov Synagogue atau sinagog tempat Yaakov. “Kalau untuk orang muslim, tempat ibadah ini hanya semacam langgar (musala, Red), bukan masjid,” kata juru kunci sinagog Leo Van Beugen kepada Jawa Pos.

Penataan tempat duduk di dalam sinagog hampir mirip di masjid. Posisi duduk pria dan wanita dipisahkan oleh “hijab” berupa papan kayu melintang yang membelah sinagog. Mimbar berada di sisi pria. Baik pria dan wanita, masing-masing mendapat jatah enam kursi bangku panjang menghadap mimbar.

Karena hanya “langgar”, daya tampung sinagog Yaakov tidak banyak. Hanya sekitar 20 jemaat. Setiap kali ibadah hari sabbath (Sabtu) digelar, paling tidak ada tiga hingga empat keluarga yang hadir. Selain sinagog, sejumlah perjamuan kadang dilakukan di rumah orang Yahudi. Baik hari raya Hanukah (perayaan penahbisan) maupun hari raya Yahudi lain.

Van Beugen menuturkan, sinagog tersebut awalnya adalah rumah tinggal yang dibangun pada 1996. Baru pada 2004, Rabbi Yaakov Baruch, pemimpin ibadah Yahudi di Manado, dan seorang Yahudi dari Belanda membelinya untuk dibangun sinagog.

Sinagog tersebut sempat direnovasi lagi pada 2009, bertepatan dengan konferensi kelautan dunia atau World Ocean Conference (WOC) di Manado. “Karena semua Yahudi peserta WOC kalau beribadah kan ke sini,” kata lelaki 70 tahun ini.

Dengan adanya sinagog, kaum Yahudi di Sulawesi Utara tidak perlu susah-susah untuk mencari tempat untuk beribadah. Jumlah penganut Yahudi di Sulawesi Utara sekitar 500 orang. Mereka tidak tinggal di kawasan tertentu atau berkumpul dalam sebuah perumahan. Mereka tinggal terpisah dan berbaur dengan masyarakat umum lainnya. Mereka hanya berkumpul setiap ada perayaan hari raya.

Para penganut Yahudi di Manado adalah Yahudi keturunan. Mereka mendapat darah Yahudi ketika Belanda datang saat masa penjajahan. Namun, pada saat itu mereka mengganti marga dan memilih agama mayoritas daerah yang ditinggalinya. Itu agar mereka bisa berbaur dengan masyarakat setempat.

Salah satu dari mereka adalah pemimpin spiritual Yahudi Manado, Rabbi Yaakov Baruch. Dia mendapat darah Yahudi dari kakeknya dan nenek dari ibunya. Dengan adanya imam Yahudi di Manado, beberapa anak keturunan Yahudi pun beralih memeluk agama Yahudi meski sebagian besar masih bertahan dengan agama lama. “Itu pilihan. Kita tidak bisa memaksa,” kata Yaakov.

Yaakov menuturkan, keberadaan komunitas Yahudi di Manado tidak untuk menyerukan penganut agama lain menjadi Yahudi. Sebab, untuk menjadi kaum Yahudi tidak bisa serta merta berpindah agama. Mereka harus memiliki darah keturunan Yahudi.

Itupun tidak sembarangan. Anak keturunan Yahudi, kata Yaakov, baru bisa menjadi penganut Yahudi jika minimal lahir dari rahim ibu Yahudi meski ayahnya dari bangsa lain. Meski ayah Yahudi, tapi ibunya tidak, mereka sejatinya tidak bisa. “Tapi kalau mau ketat begitu, jumlah Yahudi di Indonesia jadi sedikit sekali. Paling cuma ada 20 orang se-Indonesia. Saya rasa tidak harus seketat itulah,” katanya.

Yaakov yang beraliran Yahudi ortodoks ini beranggapan bahwa seseorang masih bisa menjadi penganut Yahudi meski hanya dari jalur ayah Yahudi. Sejumlah agamawan Yahudi pun ada yang menganut pemikiran tersebut.

Bangunan khas Yahudi lainnya di Sulawesi Utara adalah menorah. Menorah yang mirip trisula itu merupakan simbol bangsa Yahudi berupa tatakan lilin dengan tujuh tiang melengkung membentuk huruf u. Menorah di Sulawesi Utara terletak di perbukitan Gunung Klabat di Minahasa Utara. Sekitar 20 kilometer dari Manado.

Posisi menorah cukup strategis. Karena terletak di atas bukit, bangunan itu langsung terlihat oleh pengguna jalan yang melintas antara jalur Manado-Bitung. Akses jalan menuju menorah pun tidak sulit. Bangunan tersebut dibangun oleh Pemkab Minahasa Utara.

“Itu sebenarnya tidak bisa langsung disebut bangunan Yahudi. Sebab, agama Kristen juga mengenal lambang itu. Lagi pula, bukan dari pihak kami ide membangun menorah itu,” katanya.

Dosen di perguruan tinggi di Manado itu mengungkapkan, sudah saatnya Yahudi di Indonesia muncul. Sebab, pemeluk agama Yahudi sejatinya telah hidup sekian lama berdampingan dengan masyarakat Indonesia. Karena itu, sudah saatnya pemeluk Yahudi mengekspresikan keimanan sebagaimana agama-agama lain di Indonesia.

Dia menegaskan, Yahudi sebagai pemeluk agama berbeda dengan Yahudi secara politik. Dia tidak ingin masyarakat cenderung mengartikan keberadaan mereka sebagai dukungan atas penyerangan terhadap Palestina. “Kami hanya ingin beribadah dan melakukan tradisi-tradisi leluhur kami. Ini murni ibadah, bukan politik,” katanya.

Yahudi di Indonesia Ingin jadi Agama Resmi

Toar Palilingan, 27, standing and Oral Bollegraf, 50, prayed before a Sabbath meal in Manado. “We’re just trying to be good Jews,” Mr. Pallingan said(NYT)

Dulu, para pemeluk Yahudi di Manado mencantumkan agama lain di kartu tanda penduduk (KTP). Kini mereka ingin Yahudi ditulis sebagai agama resmi.

Bukan hanya itu. Mereka juga ingin pernikahan dengan ajaran Yahudi diakui secara resmi di Indonesia. Kata Rabbi Yaakov Baruch, pemimpin ibadah Yahudi di Manado, selama ini, jika menikah, kaum Yahudi di Indonesia “meminjam” prosesi agama yang mereka peluk. Itu agar pernikahan mereka diakui pemerintah.

Karena itu, Yaakov bersama anggota komunitas Yahudi lainnya sedang berupaya agar Yahudi diakui sebagai agama resmi di Indonesia. Selain itu, dia meminta agama Yahudi menjadi salah satu pilihan kolom agama di KTP. Mereka sudah menyewa pengacara untuk mengusahakannya, baik lewat jalur hukum formal maupun lobi-lobi. “Berkas-berkas sudah kami siapkan. Pengacara yang tahu detail teknisnya,” kata Yaakov yang juga dosen fakultas hukum ini.

Yaakov menuturkan, di masa pemerintahan Belanda di Indonesia, agama Yahudi diakui sebagai agama resmi. Begitu pula ketika masa pemerintahan Soekarno. Bahkan, hak penganut Yahudi sama dengan agama lainnya seperti Islam, Kristen, dan Katolik.

Yaakov lantas menunjukkan kopi surat lawas surat Menteri Agraria yang dirilis pada 1961. Surat tersebut menyatakan mengakui bahwa kaum agama Israelit (sebutan kaum Yahudi pada masa itu) diakui sebagai agama di Indonesia. “Kenapa sekarang tidak” Kami memiliki hak yang sama,” kata Yaakov.

Sampai saat ini Yaakov belum mengetahui jumlah penganut Yahudi seluruh Indonesia. Yang dia ketahui baru dua komunitas. Yakni, di Manado dan di Surabaya. Namun, hanya komunitas Yahudi Manado yang terbuka kepada publik. Di daerah selain Manado dan Surabaya, bisa jadi ada karena banyak Yahudi Belanda dan Portugis yang datang ke Indonesia.

Dengan Yahudi diakui pemerintah, Yaakov berharap para penganut Yahudi berani muncul. Mereka juga bisa beribadah dengan tenang dan dokumentasi anak keturunan mereka menjadi jelas. “Kami capek kucing-kucingan terus. Sudah saatnya agama Yahudi diakui di Indonesia,” katanya.

Apa tidak khawatir dengan kasus insiden penyerangan Ahmadiyah di Pandeglang, Banten, beberapa waktu lalu” Yaakov mengakui, isu itu cukup sensitif. Namun, masyarakat tidak bisa terus-menerus berpikir jelek tentang Yahudi. Ini adalah waktu bagi warga Indonesia tahu bagaimana Yahudi sebagai kaum beragama.

“Orang kalau tidak tahu akan muncul banyak dugaan. Bukan berarti harus terus bersembunyi, tapi harus kita beri informasi yang tepat,” kata rabbi yang bolak-balik ke Israel untuk menimba ilmu agama ini.

PBNU Tegaskan Israel itu Zionis!

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Agil Siradj menentang keras rencana perayaan hari kemerdekaan Israel ke-63 di Jakarta yang rencana awalnya akan dilaksanakan Sabtu (14/5).

“Kami berkeberatan ada perayaan lahirnya negara Israel di Jakarta,” kata Said usai temu wicara Mahkamah Konstitusi (MK) dengan Muslimat NU di hotel Aryaduta, Jakarta, Jumat (13/5).

Namun, lanjut Said, bangsa Indonesia harus dapat membedakan antara Yahudi dengan Zionis. Menurutnya, Yahudi sebagai agama diakui karena mereka mempunya nabi dan kitab suci yang harus dihormati. “Tetapi, zionis itu kita tidak setuju karena menindas bangsa Palestina,” ujar Said.

Bahkan di Palestina sendiri, kata Said lagi, peringatan kemerdekaan bangsa Israel merupakan peringatan buruk  karena rakyat Palestina menganggap itu sebagai hari tragedi.

“Kami tidak anti agama yahudi, tapi kami anti zionis,” tandas Said yang terpilih menjadi ketum PBNU pada Maret 2010 itu.

Awas, Provokasi Israel!

wakil Ketua DPR, Priyo Budi Santoso, mengingatkan sekelompok orang yang hendak memperingati hari kemerdekaan Israel untuk mengurungkan niatnya. Alasannya, hal itu hanya akan memicu reaksi keras dari kelompok lain.

Kepada wartawan di gedung DPR RI, Jumat (13/5) sore, Priyo mengatakan, tindakan merayakan kemerdekaan Israel di Indonesia jelas menimbulkan provokasi. “Dipastikan akan mengundang pihak-pihak lain untuk berekasi secara keras. Saya meminta yang bersangkutan mengurungkan acara tersebut,” ucapnya.

Priyo pun menganggap provokasi itu akan melukai masyarakat Indonesia. “99 persen akan melukai bangsa kita,” ucapnya.

Meski demikian Priyo juga mengungkap bahwa agen Israel memang sudah berkeliaran di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Yang menjadi pertanyaan, lanjut Priyo, adalah motif peringatan kemerdekaan Israel oleh sekelompok orang di Indonesia.

“Apakah ini gerakan Israel ke kita, atau ada motif bisnis, atau genit-genitan saja, yang pasti ini sudah memprovokasi,” ulasnya.

Lebih lanjut politisi Golkar itu mengatakan, Polisi harus berani menolak permohonan izin untuk peringatan kemerdekaan Israel. “Pakai saja alasan ini menyangkut kenyamanan. Kok gagah berani betul. Itu harus diurungkan,” tandasnya.

Sebelumnya, sekelompok orang yang menamakan diri Komunitas Pecinta Israel mengajukan izin ke Mabes Polri untuk memperingati Kemerdekaan Israel. Tahun 2011 ini, hari kemerdekaan Israel jatuh pada 9 Mei.

jppn.com




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: