Kapan Indonesia Bubar?

politik.kompasiana.com : Indonesia Bubar

Tulisan saya sebelumnya, 5 tahun lagi Indonesia menjadi 17 negara, dan Wacana Negara Federal (United State of Indonesia). Dan kali ini aku menulis

dengan judul “Kapan Indonesia Bubar?

Saya memilih judul atas terinspirasi dengan membaca buku Bapak Dr.N.B.SUSILO.MT.MBA,MA,MH. Dengan judu “INDONESIA BUBAR”, yang berisi 280 halaman, kreasinya dalam bentuk visual komik yang menanamkan nilai-nilai nasionalisme.

Setelah saya membeli buku ini dan melihat judulnya, saya terasa penasaran dan rasa keingintahuan membentuk dalam pikiran saya. Saya harus segera ke rumahku dan menyediakan waktu untuk membaca dengan seksama, buku yang baru saja mendapatinya.

Sebelum membuka kover buku yang ditutupi dengan plastic polos itu, saya bertanya dalam hatiku,

“INDONESIA BUBAR” Kapan Indonesia bubar?

Apakah buku ini ada hubungan dengan Bukunya pak Dyoto Suntani dengan Judul : 2015 Indonesia Pecah (Pecah Menjadi 17 Negara),

Ternyata pertanyaanku salah alamat tetapi isi buku sebenarnya seperti uraian dibawah ini, tapi ingat dunia ini dinamis, politik bisa berubah dan bangsa ini bisa saja bubar, saya tahu cerita tentang Unisoviet.

Apa isi buku, secara singkat,

Abang Dr.N.B.SUSILO.MT.MBA,MA,MH, sebagai penulis yang budiman, dia menyertakan di awal kata pengatarnya dengan satu kalimat “Aku mencari ditengah-tengah seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu dihadapan-ku supaya jangan ku musnakann tetapi aku tidak menemuinya”

Beliau menulis buku ini atas 5 hal yang menjadi terinspirasinya,

– Dia sebagai generasi anak bangsa, yang melihat dinamika bangsa yang kian terdegradasi dan sebagi menyunguhkan reformasi bangsa 1998

– Dia sebagai generasi anak bangsa melihat tantangan masa depan semakin berat dan

– Dia sebagai generasi anak bangsa, mempunyai pengalaman dan bakat analytic di masa depan

– Dia sebagai generasi anak bangsa, melihat pentingnya peranan generasi anak bangsa untuk mewariskan persatuan bangsa Indonesia dan,

– Menawarkan solusi atas permasalahan bangsa dalam bentu visual komik yang sangat kaya karyanya.

Dalam awak kata pengantarnya dia berharap agar bukunya menjawab budaya bangsa ini seperti pemalas, tahu sedikit cepat puas, egois, pundarnya loyalitas anak bengsa dan sebaginya agar direstorasi kembali misi bangsa sesungguhnya.

Dalam ulasan awal dia menguraikan pengaruh Globalisai bahwa Negara terbelakang seperti Indonesia bisa kokoh bila para pemimimpin yang jujur, berani, banyak akal, kreaktif dan mempunyai sense of tuning. Dengan visi Futuristik, kalau Negara kita hanya otot yang dikendalikan oleh Negara otak, maka kemungkinan Indonesia bisa bubar.

Bung karno, berkata,“Hai pemuda-pemuda dengan 1.000 org kuat aku pindahkan gunung semeru, tetapi dengan 100 orang pemuda pemberani aku dapat menguncangkan dunia.”

Kehilangan legalitas rakyat atas pemimpin;

Masyarakat Indonesia tergolong heterogan atau tradisional paternalistic ini sangat membutuhkan contoh keteladanan dari atas kebewah (Pusat sampai RT/RW), kalau dari atas sudah bersih, kebawah akan bersih sendirinya. Kalau tidak legalitas rakyat terhadap pemimpin akan hilang

Kebijakan yang merobah dan melenceng akan menyebabkan orang menjadi tidak percaya dan otoritas akan kehilangan kreabilitasnya. Perimbangan dan perlakuan terhadap rakyat atas kebijakan pemimimpin bangsa ini snagat penting walaupun dunia ini ada dua kelas “sehebat atau secanggih apapun teori social tentang manusia, tetap saja manusia Cuma terbagi dua: yang kaya dan yang miskin – Benyamin D, Negarawan”

Kepemimpinan Tempe,

Komitmen kebangsaan dan komitmen reformasi masih dinilai lemah dan tergolong jauh dari misi reformasi. Kepemimpinan melenceng dari agenda reformasi dan demokrasi sesungguhnya. Ketergantungan bangsa terhadap barat masih kental terlihat, pemimpin hanya tahu memimpin, tidak tahu memecahkan masalah.

Rakyat bangsa terlihat semakin sengsara, reformasi militer juga digolong reformasi semu atau reformasi formalitas (bukan subtansialntya), egoism para politisi dan otoriter kepemimimpinan juga terasa, kekerasan antar rakyat juga masih banyak terjadi, aksi berbau SARA, intimindasi, diskrimnasi, dominasi, masih terasa.

Hal-hal ini terlihat kecil dan biasa – biasa namun akan menyebabkan bangsa ini akan pecah dan bubar menjadi beberapa kepingan walaupun kita semua tidak ingin terjadi.

Kita tunggu kapan Indonesia Bubar…..

Turwen Weko | politik.kompasiana.com




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: